Kamis, 29 Mei 2014

Tentukan Arahmu?


“Wahai pemuda, beramallah kalian saat kalian masih muda karena aku tidak melihat amal kecuali pada saat masih muda.” (Hafshah binti Sirin Rahimahallah)

Anak muda merupakan tulang punggung bangsa. Merekalah yang akan menjadi penerus bangsa ini. Jadi, bisa diprediksi dari sekarang tentang masa depan suatu bangsa. Yupz, benar sekali. Masa depan bangsa bisa dilihat dari moral anak mudanya. Jika anak muda pada saat ini baik maka bisa diprediksi masa depan bangsa tersebut juga baik. Sebaliknya, jika anak muda pada saat ini bermoral buruk maka bisa diprediksi bangsa ini tidak memiiki masa depan yang baik. Jadi, masa depan bangsa kita saat ini berada di tangan kita. Okelah, kita jangan bahas bangsa mungkin terlalu besar. Atau bisa lebih diperkecil lingkupnya yaitu desa mungkin atau masa depan organisasi apa yang lebih kecil lagi yaitu masa depan kita sendiri. Nah, kalau bukan kita yang menentukan masa depan kita? Lalu siapa lagi? Orang tua? Keluarga? Teman? Atau malah pacar? Ehm, ehm yang senyum-senyum udah punya tuh... Yang sudah lulus hayo mau kemana? Pilihan kamu saat ini menentukan masa depanmu lho?
Yang pasti untuk menentukan pilihan adalah dengan menentukan besok kalian mau jadi  alias cita-cita kalian apa? Janganlah kita mengikuti arus! Kebanyakan dari kita masih berpikir jalani hidup itu seperti air yang mengalir. Kalau kita bisa menciptakan arus sendiri, bisa menentukan arus sendiri kenapa harus mengikuti arus yang ada? Bahkan arus yang sudah ada kita tidak tahu akan menuju kemana? Kalau kita yang menentukan dan menemukannya, kita bisa mengarahkan arus tersebut menuju tempat yang kita kehendaki.
Selama ini, kita masih mengikuti arus-arus yang sudah ada. Kita tak tahu siapa yang menciptakan arus tersebut. Kita juga tak tahu kemana arus itu akan bermuara. Arus-arus ini hanya memberikan kebahagian sehingga kita terus terseret kedalam arus tersebut. Hingga merelakan waktu, harta bahkan kehormatan.
Coba jika suruh pilih, kalian pilih mendengarkan lagu-lagu pop atau mendengarkan murotal? Pilih membaca al Quran atau baca SMS? Sering mana buka buku bacaan atau buka FB? Gelisah saat ketinggalan shalat atau ditinggal teman? Betah di masjid apa di warnet? Pilih menghadiri tausyah atau konser? Dan masih banyak lain, silakan teman-teman pikir .
Kebanyak dari kita masih banyak mendengarkan lagu-lagu pop apalagi Ki-Pop gak da bosennya dah, tapi kalo mendengarkan murotal atau lagu-lagu islami? Kita jarang membaca Al Quran tapi kita sering membaca SMS. Sering membuka buku tapi kita jarang membacanya (siapa tuh? Pura-pura membuka buku tp malah OL). Saat akan pergi dengan teman dan belum shalat, kita sering mengatakan, “Bentar dulu ya, saya shalat dulu. Gak lama kok!” (shalat kok kaya pengiriman kilat). Kita betah di depan compy berselancar di dunia maya daripada di masjid untuk menunggu datangnya Iqomat. Banyak yang memilih datang ke konser tapi tak banyak yang menghadiri pengajian. Tapi, didaerah anda saya rasa tidak begitu ya. Saya pikir akan banyak yang memilih tausyah dan sedikit yang memilih konser untuk ditinggalkan. Bingung? Silahkan dipahami dengan sepaham-pahamnya...
Beberapa bulan yang lalu, artis BoyBand dan GirlBand asal korea mengadakan konser di Jakarta. Tak hayal, hal ini membuat girang para fan-fans mereka di Indonesia (kebanyakan para kaum muda). Sebagai bukti kecintaannya kepada idola mereka sangat antusias untuk mengantri membeli tiket yag harganya mencapai 1jt rupiah dan yang paling murah 250rb rupiah. Atau saat ada konser dangdut didesa tetangga, yang nonton pun bisa samapai jalanan. Seakan-akan berdiri berjam-jam, berdesak-desakan bahkan khalwat lawan jenis tak mengapa. Beda ceritanya jika diadakan tausyah. Pengumumannya sudah diumumkan jauh-jauh hari, masih ditambah embel-embel fassilitas snack, tempat nyaman, dijamin dapat tempat duduk dan gratis. Apakah yang datang akan sama seperti konser Ki-Pop ataupun konser dangdut? Saya rasa bagaikan langit dan bumi.
Inilah moralitas anak muda sekarang. Mereka masih mudah terseret arus, bahkan dengan arus yang kecil sekalipun. Mereka mengikuti apa yang lagi tren saat ini apa yang lagi bouming dan yang sedang cetar membahana. Mereka tak pedulikan hal buruk apa yang akan menimpanya. Mereka juga tak mempedulikan ancaman masa depan mereka. Yang  mereka tahu hanyalah kebahagian dan kesenangan. Mereka tidak tahu bahwa kebahagianan dan kesenangan itu hanyalah sebuah bungkus yang diciptakan setan untuk mengelabuhi mangsanya. Setan berhasil membungkus rapi tipu dayanya dengan kebahagian yang semu, kesenangan yang sesaat.
Apakah sahabat muslim tidak mengetahui apa yang dikatakan iblis ketika diperintahkan Allah untuk turun dari surga? Allah menceritakannya dalam al Qur’an surat al A’raf:
tA$s% ñÝÎ7÷d$$sù $pk÷]ÏB $yJsù ãbqä3tƒ y7s9 br& t¬6s3tFs? $pkŽÏù ólã÷z$$sù y7¨RÎ) z`ÏB tûï̍Éó»¢Á9$# ÇÊÌÈ   tA$s% þÎTöÏàRr& 4n<Î) ÏQöqtƒ tbqèWyèö7ムÇÊÍÈ   tA$s% y7¨RÎ) z`ÏB tûï̍sàZßJø9$# ÇÊÎÈ  
“Allah berfirman: "Turunlah kamu dari surga itu; karena kamu tidak sepatutnya menyombongkan diri di dalamnya, Maka keluarlah, Sesungguhnya kamu Termasuk orang-orang yang hina". Iblis menjawab: "Beri tangguhlah saya sampai waktu mereka dibangkitkan". Allah berfirman: "Sesungguhnya kamu Termasuk mereka yang diberi tangguh." (QS. Al A’rqf: 13-15)
Allah SWT menunjukan kekuasaannya, yakni memerintahkan iblis untuk turun dari surga karena kedurhakaan dan pembangkangannya yang menyimpang dari jalan yang ditetapkan Allah SWT. Iblis diturunkan dalam keadaan hina sebagai balasan terhadap pengakuannya. Lalu iblis meminta agar usianya ditangguhkan hingga sampai hari kiamat. Allah mengabulkan permintaan iblis untuk menangguhkan usianya hingga manusia dibangkitkan. Maka setelah  dikabulkan permintaannya, iblis besumpah akan menggoda bani adam, menghalangi - halangi manusia dari jalan-Nya yang lurus.
tA$s% !$yJÎ6sù ÏZoK÷ƒuqøîr& ¨byãèø%V{ öNçlm; y7sÛºuŽÅÀ tLìÉ)tFó¡ãKø9$# ÇÊÏÈ   §NèO Oßg¨YuÏ?Uy .`ÏiB Èû÷üt/ öNÍkÉ÷ƒr& ô`ÏBur öNÎgÏÿù=yz ô`tãur öNÍkÈ]»yJ÷ƒr& `tãur öNÎgÎ=ͬ!$oÿw¬ ( Ÿwur ßÅgrB öNèdtsVø.r& šúï̍Å3»x© ÇÊÐÈ  
“Iblis menjawab: "Karena Engkau telah menghukum saya tersesat, saya benar-benar akan (menghalang-halangi) mereka dari jalan Engkau yang lurus. Kemudian saya akan mendatangi mereka dari muka dan dari belakang mereka, dari kanan dan dari kiri mereka. dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur (taat).” (QS. Al A’raf: 16-17)
Dalam tafsirnya, Ibnu Katsir menjelaskan
“Yakni sebagaimana Engkau telah menyesatkan aku. Menurut Ibnu Abbas, sebagaimana Engkau telah menghukumi saya tersesat. Sedangkan menurut lainnya, sebagaimana Engkau telah binasakan saya, maka sesungguhnya saya benar - benar akan menghalang - halangi hamba - hambaMu yang Engkau ciptakan dari keturunan orang ini (Adam) yang menjadi penyebab Engkau jauhkan diriku dari rahmatMu, agar mereka tidak menempuh jalanMu yang lurus, yaitu jalan yang hak dan jalan keselamatan. Sesungguhnya saya benar - benar akan menyesatkan mereka dari jalan tersebut agar mereka tidak menyembahMu dan tidak pula mentauhidkan-Mu, karena Engkau telah memutuskan kesesatan terhadap diriku.”
Sejak diturunkan dari surga, iblis telah mengangkat bendera perang kepada manusia. Mereka berjanji akan menghalang-halangi manusia dari jalan yang lurus dan jalan keselamatan. Iblis akan menggunakan berbagai cara agar manusia tidak menyembah dan tidak lagi mentauhidkan Allah SWT. Seperti sesatnya iblis yang telah disesaatkan Allah SWT.

Sahabat muslim, sebelum kita terseret arus kesesatan yang lebih jauh marilah bersama-sama kita ciptakan arus yang aman. Arus yang akan membawa kita kedalam kebahagian didunia dan akhirat. Arus yang akan mengarahkan kita ke jalan haq. Arus yang akan membawa kita ke jalan keselamatan. Arus yang akan membawa kita ke pada Allah ta’ala. Yaitu arus di jalan kebenaran dan keselamatan yang ditunjukan al Qur’an dan sunnah. Yang akan membawa kita kearah yang sebenarnya yaitu menuju surgaNya Allah. Tidak ada lagi tempat tujuan akhir yang paling indah selainnya. Disanalah kita akan bahagia selama-lamanya. Tidak ada lagi perkataan dan perbuatan sia-sia. Semua akan tampak indah dipandang. Menyediakan apa yang kita inginkan. Itulah tujuan yang sesungguhnya bagi setiap manusia. Sebagaimana asal nenek moyang manusia yaitu Nabi Adam as dan Hawa.

Selasa, 06 Mei 2014

Kenali Dirimu Wahai Pemuda?




“Masa muda adalah masa-masa yang paling indah.” (Koes Plus)

 Jika diibaratkan matahari, masa muda adalah saat matahari berada diatas, disaat bersinar  terang dengan sinarnya yang panas. Hal ini mengibaratkan bahwa masa muda adalah masa yang bergairah dan paling semangat dibandingkan dengan masa-masa sesudah maupun sebelumnya.
Di masa ini juga pertumbuhan fisik dan jiwa sangatlah terasa. Dimulai saat-saat meninggalkan masa anak-anak pertumbuhan itu akan jelas terlihat. Perubahan bentuk badan, perubahan suara, psikologis, dan perubahan yang lain. Di fase inilah seorang pemuda harus mampu menempatkan posisinya sebagai pemuda bukan lagi seorang anak kecil. Apa lagi jika sudah baligh. Seorang pemuda harus tahu bahwa mulai saat itu bukanlah seorang anak kecil lagi. Masa ini bisa disebut dengan masa remaja.
Menurut psikologis, remaja adalah suatu periode transisi dari masa awal anak- anak hingga masa awal dewasa, yang dimasuki pada usia kira-kira 10 hingga 12 tahun dan berakhir pada usia 18 tahun hingga 22 tahun.  Menurut Sri Rumini dan Siti Sundari  (2004:53) masa remaja adalah peralihan dari masa anak dengan masa dewasa yang mengalami perkembangan semua aspek / fungsi untuk memasuki masa dewasa. Sedangkan menurut Zakia Darajat (1990:23) remaja adalah Masa perlihan diantara masa kanak-kanak dan dewasa. [1]
Sedangkan dalam Islam istilah remaja sering disebut dengan baligh. Orang bisa dikatan baligh jika seseorang telah mengalami mimpi basah bagi laki-laki dan wanita mengalami menstruasi.  Seseorang yang sudah memasuki fase ini maka orang tersebut sudah dikenai syariat-syariat Islam. Dengan kata lain, segala amal perbuatan akan dipertanggungjawabkan sendiri kepada Allah ta’ala. Dari pengertiaan tersebut remaja bisa juga disebut dengan orang dewasa karena perlakuan tentang syariat-syariat dalam Islam sudah berlaku kepada mereka. Yang membedakan adalah tingkat kematangan dalam berfikir, bersikap, bersosialisasi, dan kedewasaannya.
Dari pengertian yang telah ada, penulis menyimpulkan bahwa masa remaja adalah masa peralihan dari masa anak-anak menuju kedewasaan. Pada masa ini, remaja akan mengalami perubahan fisik, sikap, berfikir  dan aspek-aspek yang lain. Jika dilihat dari usia, masa remaja akan dialami setiap orang diusia belasan tahun. Tapi, usia bukanlah menjadi patokan seseorang sudah memasuki masa remaja.  Karena tidak sedikit yang lebih awal memasuki masa remaja dan tidak sedikit pula yang lambat dalam memasukinya. Karena itu pengertian remaja ini sulit utuk didefinisikan seacara mutlak. Masa remaja adalah masa awal seseorang memasuk masa muda. Seperti yang tertulis dalam wikipedia, masa muda merujuk pada seseorang antara usia 17 saampai 25 tahun, dibawah itu adalah remaja sedangkan usia 26 sampai 39 itu adalah usia dewasa di mana orang tengah pada titik puncaknya dan untuk diatas itu adalah usia pertengahan.[2]
Saya sepakat mungkin sahabat muslim juga sepakat bahwa masa muda adalah sebuah kenikmatan yang harus kita syukuri. Mengapa demikian? Karena dimasa ini Allah ta’ala telah memberikan kita kekuatan yang sempurna dalam raga kita. Itu merupakan kenikmatan yang besar. Kekuatan berjalan, berlari dengan kencang, mengangkat benda berat, mendaki gunung, bermain bola, dan aktivitas yang lain. Bukankah itu semata-mata berkat kenikmatan Allah yang diberikan kepada kita? Mungkin di masa setelah itu kita tidak mampu lagi untuk melakukan aktivitas itu semua.
Sebagai seorang muslim alangkah baiknya kita mensyukuri kenikmatan yang telah diberi di usia muda. Kekuatan yang kita miliki mari kita gunakan sebaik mungkin. Belajarlah selagi mata ini bisa melihat dengan jelas. Pergilah ke masjid ketika adzan berkumandang selagi kaki ini masih mampu berjalan. Dengarkanlah tausyah, ayat-ayat al Quran selagi pendengaran kita masih sempurna. Berpuasalah selagi fisik ini mampu. Bersedakahlah selagi tangan ini masih mampu memberi.
Nabi Muhammad SAW bersabda,
”Tidak tergelincir dua kaki seseorang hamba pada hari kiamat sampai Allah menanyakan empat hal: umurnya, untuk apa selama hidupnya dihabiskan; masa mudanya, bagaimana dia menggunakannya; hartanya, darimana dia mendapatkan dan untuk apa saja dihbiskan; dan ilmunya, apakah dia amalkan atau tidak.” (HR. Tirmidzi).
Dari hadits tersebut, masa muda disebutkan secara terpisah. Masa muda bisa saja dimasukan dalam umur, tetapi Nabi Muhammad SAW memisahkannya. Ini menegaskan bahwa, masa muda adalah masa yang sangat penting. Karena ditangan pemudalah perubahan itu bisa terjadi. Bersamaan itu juga godaan seorang pemuda juga sangatlah besar. Apa lagi saat seorang pemuda dalam pertumbuhan mental dan fisik. Mengingat psikologis yang masih labil dan pikiran yang masih mudah terpengaruh mereka akan mengalami banyak gejolak dalam pikiran dan jiwa yang bisa menyebabkan mereka tertekan dan mengalami kebimbangan. Kondisi ini sangat rentan bagi seorang pemuda, karena dalam kondisi ini pemuda bisa terjerumus dalam jurang keburukan.
Kenalilah dirimu wahai pemuda? Tidak ada yang lebih tahu tantang dirimu di dunia ini kecuali dirimu sendiri, bahkan orang tuamu sendiri. Bercerminlah pada hatimu. Ikutilah apa kata hatimu. Karena sesungguhnya hati itu tidak akan pernah bohong. Jika kamu melakukan kebaikan maka hatimu akan tenang, namun jika kamu melakukan keburukan maka hati akan merasa was-was.
Jadilah dirimu sendiri, wahai pemuda? Jangan kamu ikuti idola-idolamu. Kalau kamu mengikuti idolamu, lalu siapa yang menjadi dirimu? Allah telah mempercayakan amanah-Nya ke padamu untuk menjadi manusia. Tunjukan bahwa kamu memang layak memegang amanah yang diberikan Allah. Engkaulah sang pemenang dari ratusan sperma yang merebutkan ovum. Engakaulah sang bayi yang dulu belum bisa membaca, belum tahu apa-apa, yang tidak bisa memegang sesuatu pun walau hanya selembar kertas, sang bayi yang belum bisa berjalan. Namun kini engakau mengetahui nama-nama yang ada disekitarmu. Mampu berjalan walau harus terjatu-jatuh, namun dengan semangat kamu bisa berjalan hingga  kamu bisa berlari sekencang-kencangnya. Lalu dimanakah semangat itu? Masihkah tertanam semangatmu waktu belajar berjalan walau harus sering terjatuh? Masihkah ada senyumanmu ketika orang disekitarmu menertawaimu saat kamu mencoba berbicara? Adakah tangisan lantang ketika bayimu, saat merasakan kondisi yang tidak sesuai hatimu? Dimanakah itu semua wahai sahabat muslim? Masihkah ada dalam jiwamu?


[1] www.wikipedia.org/wiki/remaja (18-11-2013, 06.15 WIB)
[2]  www.wikipedia.org/wiki/masa_muda (19-11-2013, 11.24 WIB)

Pemuda Kenalilah Tempatmu?


“Sesungguhnya kami adalah ibrah (pelajaran) bagi kalian wahai segenap para pemuda. Beramallah karena amal itu ada di masa muda.” (Sari As-Saqathi)

Diusia muda inilah puncak perjuangan. Ibarat gunung usia muda adalah berada dipuncaknya. Dimasa ini tenaga berada pada tingkatan penuh. Diusia ini juga ide-ide cemerlang akan muncul. Jika hal tersebut tidak dibungkus dengan keimanan dan diberi label takwa bisa jadi usia emas ini akan terbuang sia-sia.
Sejarah telah mencatat bahwa peran pemuda sangatlah vital.  Dengan pemuda Indonesia berhasil meraih kemerdekaan. Melalui perjuangan dari Ir. Soekarno, Moh. Hatta, Sutan Syahrir, Bung Tomo dan pemuda-pemuda yang lain, Indonesia berhasil membacakan teks proklamasi pada tanggal 17 Agustus 1945. Jauh sebelum itu, ketika Nabi Muhammad SAW sebelum diangkat menjadi Rasul mampu mendamaikan kelompok yang bertikai dalam menentukan siapa yang berhak meletakkan batu hajar aswad di tempat semula. Kala itu usia Beliau masih muda.
Lalu dimanakah pemuda-pemuda  sekarang?
Apakah mereka berada di masjid-masjid, yang siap mengumandangkan adzan saat waktu shalat tiba?
Apakah mereka berada di majelis-majelis ilmu, yang mencari ilmu agama dengan niat hanya kepada Allah?
Atau mereka berada ditengah-tengah masyarakat untuk menyampaikan kebenaran dan perubahan?
Memang ada dari pemuda yang melakukan hal tersebut tapi kebanyakan dari mereka lebih senang berada di warnet, mengahabiskan waktu sekedar untuk berselancar di dunia maya, main game hingga larut kemudian disiang harinya mereka malah tidur. Sering bolos sekolah, suka tawuran, ikut demo walau mereka tidak tahu apa tujuan dari demo tersebut. Mereka memilih pacaran dari pada harus menikah.
Seorang pemuda sangatlah rentan dalam menentukan jati diri apalagi mereka yang berada diawal remaja. Begitu mudahnya seorang pemuda mengikuti arus kehidupan. Seperti seorang penumpang yang pasrah kepada seorang sopir. Entah sopir itu menyetirnya dengan ugal-ugalan atau dengan aturan. Mereka tidak menghiraukan itu. Yang dia pikir adalah sampai di tempat tujuan. Mereka serahkan keselamatannya kepada seorang sopir. Kalo si sopir menyetir dengan ugal-ugalan kemungkinan bahayanya sangatlah besar, berbeda dengan sopir yang menyetir dengan aturan, keselamatan penumpangnya menjadi prioritas utama.
Seorang pemuda bukanlah yang berkata “Inilah ayahku” tapi seorang pemuda adalah yang berkata “Inilah Aku”. Memang kita dibesaarkan oleh mereka. Kita boleh membanggakan orang tua kita. Namun jangan sampai kita nebeng kesuksesan mereka dong..!! Walaupun mereka orang tua kita, kita tak sepatutnya lalu sombong dengan kesuksesan mereka. Yang sukseskan mereka bukan kita? Percayalah, orang tua mana yang tak akan bangga jika fasilitas yang diberikan kepada anaknya digunakan untuk hal-hal positif. Kamu bebas menentukan hidupmu. Silahkan berkarya dan ekspresikan pikiranmu tapi ingat satu hal, jangan melampaui jalur-jalur syariat.
Oleh karena itu carilah idola yang bisa menuntunmu di jalan lurus dengan cara yang benar. Figur yang bisa menjadikannya lebih bersemangat, yang bisa menjadikannya pantang menyerah dan terus mendukungnya disaat dalam kepurukan. Bukannya seorang idola yang membawa dalam khayalan tingkat tinggi. Yang terus membawamu kedalam dunia mengandai-andai. Bukan pula sosok idola yanag menuntutmu untuk tampil seperti mereka. Tampil perfect dimata manusia. Tapi nol dalam penilaian Allah ta’ala. Lebih baik mana? Penilaian manusia yang maklhuk pelupa atau Allah swt sang Maha Mengetahui. Sungguh hanya iman dan takwalah yang membedakan kita dalam penilaian-Nya.
Kita bukan di surga? Yang selalu bersenang-senang. Bukan pula di neraka? Yang selalu meratapi segala siksa. Kita berada di dunia yang fana, yang bersifat sementara, orang jawa mengatakan “mampir ngombe” (numpang minum). Betapa cepatnya jika dibandingkan kehidupan di akhirat. Mungkin kita bisa bahagia di dunia tapi belum tentu di akhirat kita bisa sebahagia di dunia. Kita bisa saja susah di dunia, tapi diakhirat kita akan bahagia selama-lamanya. Apakah kita rela menaruhkan kehidupan yang sementara ini dengan siksaan yang tiada henti di akhirat kelak? Jawaban ada padamu wahai sahabat muslim. Keputusan juga ada ditanganmu. Belajarlah dewasa. Syariat Islam sudah berlaku untukmu.